Sabtu, 06 September 2008
Puasa Pertama (Mbok Ijah sang diktator)

Bulan Ramadhan sudah di depan mata, seperti tahun-tahun sebelumnya Tata, Vivin dan mbok Ijah akan menjalankannya bersama-sama. Tata tidak pulang kampung karena sehabis lebaran nanti kelompok teaternya akan manggung, alhasil selama bulan puasa dia harus tetap ke kampus untuk kuliah dan latihan teater. Sementara Vivin juga memilih untuk tidak pulang kampung dengan alasan setia kawan. Dan mbok Ijah juga tidak pulang kampung karena dilarang oleh Tata dan Vivin.

Ya ... bisa kebayang dong, bagaimana hidup mereka jika mbok Ijah meninggalkan mereka ke kampung, apalagi mau bulan puasa. Bisa-bisa puasa mereka kacau berantakan. Gak lagi bulan puasa aja tingkah mereka suka tidak beres.

“Iya deh ... iya, si Mbok gak pulang kampung, tapi neng Tata sama neng Vivin kalau dibangunin sahur jangan pada susah ya, dan kalau buka puasa harus di kost-an , si Mbok gak mau buka puasa sendirian.” mbok Ijah memberikan syarat kepada duet imoet dengan gayanya yang sok minta dimanja sambil melilit-lilitkan ujung kebayanya.

“Ok Mbok,” jawab Tata dan Vivin serentak, dengan mengangkat tangannya yang membentuk lingkaran dari jempol dan jari telunjuknya. Mereka tak mau kalah genit dengan Mbok Ijah.

****

Besok seluruh umat islam dimana pun berada akan menjalankan ibadah puasa, begitu juga Tata, Vivin dan mbok Ijah. Sepulangnya dari taraweh di Masjid, mereka bertiga asik membahas menu sahur untuk hari pertama puasa di ruang tengah.

“Mbok, besok pagi kita sahur pakai semur daging saja.” pinta Vivin pada mbok Ijah. Semenjak pacaran dengan mas Andi, Vivin mulai menyukai menu yang bernama semur, mulai dari semur daging, semur tahu, bahkan semur jengkol. Tapi ada satu yang gak mau dicoba yaitu semur ngengkol becak. capek..capek deh..!

“Bikin capcay kikil aja Mbok, lebih gampang.” Sahut Tata tak mau kalah dengan Vivin. Capcay kikil adalah makanan kesukaan Tata. Karena setiap memasuki hari pertama puasa, menu ini sudah menjadi menu andalan keluarganya di kampung. Dan meskipun tahun ini dia menjalankan sahur pertama di kost-an, menu ini harus tetap ada.

“Ini harus, wajib hukumnya. gak boleh enggak. Mbok” dengan sedikit memaksa, Tata menyerahkan resep capcay kikil andalan keluarganya pada mbok ijah.

“Gak bisa Ta, semur aja dulu nanti buka puasa baru capjay sikilmu itu…!” paksa Vivin.

“Enak aja capjay sikil.. sikilmu itu..! kikil Vin, bukan sikil!” bantah Tata setengah sewot. Terjadilah perang mulut diantara keduanya. Untunglah tidak sampai pukul-pukulan seperti geng nero yang pernah diberitakan di tipi.

Mbok Ijah yang menyaksikan sampai pusing sendiri dengan ulah mereka. mbok Ijah hanya diam sambil memperhatikan Tata dan Vivin. Kedua belah mata mbok Ijah bolak-balik ke arah Tata, lalu kemudian ke arah Vivin. Lalu mbok Ijah menutup kedua telinganya karena suara Tata dan Vivin yang super nyaring dan cempreng sudah memenuhi kost-an.

“Diaaaamm .... !!!” teriak mbok Ijah sambil mengangkat tinggi kain kebayanya, saking gemesnya.

“Neng Tata, Neng Vivin. Jangan maksa-maksa si Mbok dong, kan saya jadi bingung. Yang satu minta semur, satunya minta capcay. Sahur kali ini kita makan pake menu si mbok aja, gak boleh pada ngebantah, klo dibantah nanti si Mbok mau pulang kampung aja!” mbok Ijah segera masuk ke dalam kamarnya, sementara Tata dan Vivin melongo melihat reaksi mbok Ijah. Maklum saja mereka berdua kaget karena setahu mereka Mbok Ijah termasuk makhluk paling sabar di kost-an itu. Kertas berisi resep masakan milik mereka berhamburan gara-gara teriakan mbok Ijah tadi.

“Nurut aja deh Ta, daripada si Mbok pulang kampung,” bisik Vivin yang mulai sadar kalau sudah terlalu memaksakan kehendaknya.

“Ho oh, terserah mbok Ijah aja deh.” Tatapun pasrah sambil mengatur irama jantungnya yang tak karuan.

****

Jam 01.25 mbok Ijah sudah asik di dapur kost-an, tangan keriputnya sibuk mengolah menu sahur pagi itu. Telur balado dan tumis kangkung, hanya dua jenis makanan itu yang akan di suguhkan mbok Ijah.

Jam di dinding sudah menunjukan pukul 03.30, masakan mbok Ijah sudah siap untuk disantap, teh manis hangat dan susu sudah siap di meja makan, kerupuk kesukaan Tata juga sudah turut meramaikan meja makan.

“Neng Tata bangun! Ayooo sahuur..” mbok Ijah berkali-kali mengetuk kamar Tata, tapi tidak juga ada sahutan dari dalam kamar.

“Neng Vivin, bangun Neng, sahur yuk, susunya sudah si mbok buatkan.” Berkali-kali mbok Ijah mengetuk pintu kamar Vivin, namun setali tiga uang dengan Tata, Vivin juga tidak menyahuti panggilan mbok Ijah.

Mbok Ijah mulai merasa geram dengan Tata dan Vivin, yang sejak dari kandungan memang paling susah untuk dibangunkan(itu pengakuan dari mereka berdua.) Apalagi musim puasa begini, bisa lebih susah lagi. Kata mereka sih di kelopak matanya ketika tidur selalu menghasilkan lem alteko. Ada-ada saja alasan yang mereka lontarkan kalo dituduh tidur seperti kebo.

“Neng Tata ... Neng Vivin ... banguuuuunnn !!! kalau gak pada bangun si Mbok mau pulang kampung aja !!!” mbok Ijah mulai teriak-teriak di depan kamar Tata dan Vivin, seperti orang kesurupuan. Dan spontan saja kedua gadis imoet segara lompat dari kasur.

“Iya Mbok ... iyaa ...” mendengar kalimat pulang kampung, Tata dan Vivin langsung berjingkat dari tempat tidur. Keduanya segera mengambil posisi bersiap di depan pintu kamar masing-masing dengan mata yang masih separuh terbuka.

“Neng... cuci muka dulu deh..!” intonasi suara mbok Ijah melembut, kasian juga melihat dua perempuan imut itu seperti vampire bangun tidur. Bedanya kalau vampire di ujung bibirnya menetes darah, kalau tata dan vivin dengan air liur yang kental dan basah. Hiiiyaiyy jijayy banget deh.

“Siap Mbok….!” Ucap mereka serentak. Dengan tergesa-gesa Vivin dan Tata berlomba-lomba untuk masuk ke kamar mandi. Mbok Ijah hanya mesam-mesem melihat tingkah mereka.

“Heheheh ... dasar anak gadis yang aneh,” bisik mbok Ijah.

Setelah mencuci muka, mereka lantas duduk manis tanpa protes, Tata dan Vivin menyantap menu sahur pertama mereka. Sambil sesekali berceloteh kecil bersama mbok Ijah yang semakin setia dengan mereka.

“Mbok, nanti aku dibangunkan jam sebelas ya. Aku mau ke kampus.” Tata menitip pesan pada mbok Ijah karena besok adalah hari pertamanya latihan teater. Kelompok teaternya dapat job untuk manggung di acara pentas seni setelah lebaran nanti. Dan karna ini latihan pertama, pasti casting pemain, telat sedikit saja bisa-bisa perannya bisa diambil orang lain.

“Iya, jam sebelas ya,” mbok Ijah mengulang perkataan Tata

“Neng Vivin, gak ada acara toh besok?” tanya mbok Ijah, yang memang sudah mengerti dengan kesibukan duet imoet.

“Ada Mbok, tapi nanti Mas Andi yang bangunin katanya besok dia mau telpon,” Ya ... ini lah salah satu keunikan dari Vivin, dia paling susah di bangunkan oleh siapapun, kecuali oleh pacarnya. Baru berdering sekali panggilan mas Andi, spontan saja dia langsung terbangun “kontak batin” katanya.

“Yo wis, baguslah. Beban si mbok jadi berkurang. hehhehe..” mbok Ijah beranjak dari meja makan ke ruang televisi, mbok Ijah hobi menonton acara humor yang tayang sebelum datang waktu imsak.

Sementara Tata dan Vivin merapikan meja makan dan membersihkan piring-piring bekas makan mereka. Nah ini juga salah satu keanehkan duet imoet, meski mereka adalah majikan mbok Ijah, dan mereka yang menggaji mbok Ijah, namun mereka tidak segan-segan untuk membantu pekerjaan rumah. (eh salah dink, yang menggaji Mbok Ijah itu si Pak Toto, pemilik kost-an)

*****

Kost-an masih sepi, Vivin dan Tata masih asik mendengkur di dalam kamar mereka. Padahal sudah hampir jam sebelas siang, mbok Ijah sudah berulang kali mencoba membangunkan Tata, tetapi bukannya bangun malah semakin rapat dengan selimut dan boneka kesayangnya.

“Neng Tata.. bangun udah siang nih..! gak kuliah? Katanya mau latihan teater?”

“Akh Mbok Ijah ... diem deh, ini juga lagi latihan teater. Grok.. grok... ssssssssssssstttttt” Tata menggeliat kecil lalu meringkuk semakin dalam di selimut bergambar snoopynya. Mbok Ijah kembali gemas dengan rutinitasnya yang satu ini, membangunkan gadis-gadis yang kalau tidur sudah seperti orang mati.

“Neng Tata banguuun, sudah hampir jam sebelas iniiii ... Neng bangun dong Neng, aduh si eneng. Ah cape deh, ya wis kalau ndak mau bangun juga biar si Mbok tinggal pulang kampung saja deh.” suara mbok Ijah kembali teriak.

“Jangan Mbok ... jangan, iya ini aku bangun.” Tata segera keluar dari kamar sambil membawa handuk ungunya. Sementara mbok Ijah tertawa kecil, dan tidak lama Vivin pun terbangun lantaran mendengar teriakan mbok Ijah.

Hari cukup cerah dan sayang untuk dilewati, setelah rapih dan memanaskan motornya, Tata bersiap untuk berangkat ke kampus. Vivinpun dengan pakaian serba biru, sudah duduk manis di teras sambil menunggu mas Andi datang menjemput.

“Neng Tata ... Neng Vivin, nanti pada buka puasa di kost-an kan ?”

“Insyaallah, Mbok.” jawab mereka

“Ndak bisa insyaallah, pokoke harus buka puasa di kost-an. Kalau endak, nanti si Mbok tinggal pulang kampung” lagi lagi mbok Ijah menggunakan kata saktinya untuk melumpuhkan duet imoet.

“Iya Mbok…..!! Siaaaapppp….” Teriak mereka serempak.

Mbok Ijah sepertinya habis ikut latian kemiliteran, sedikit-sedikit mengeluarkan gertakan. Bagaimana kisah Tata dan Vivin selanjutnya di bawah tekanan Mbok Ijah yang sudah seperti diktator? Semoga di bulan ramadhan kali ini mereka berdua eh bertiga, mendapatkan hidayah dan barokah. Amiennn *lho kok?

Label:

 
posted by Duet Imoet at 08.08 | Permalink | 1 comments
Kamis, 27 Desember 2007
Bunting di Akhir Tahun 2007
Malam kian larut, sesekali terdengar suara petir sambar menyambar dan saling bersahutan. Hari ini tanggal 31 desember, tapi tak ada perayaan apa apa karena Vivin lupa membeli ayam dan arang. Sedangkan Tata kelihatannya lelah setelah sebulan ada kuliah tambahan di luar kota. Sepi... tak ada bau arang, para tetangga juga rupanya juga malas keluar rumah karna hujan turun begitu lebat.


"Kukur..ruyuuukk... ngok.. ngok....kukurr... kukurr....!" Aneh, ada suara Ayam berkokokpun mengalahkan suara hujan dan petir. Mbok Ijah bilang kalau malam-malam begini ada ayam jantan berkokok itu tandanya ada anak perawan yang sedang hamil. Ya .. mungkin mitos itu benar. Tapi pastinya bukan si perawan imoet yang hamil.

Jam di dinding menunjukan pukul sembilan lewat tiga puluh menit lebih sedikit. Tata sudah asik di dalam kamarnya, ia asik berkutat dengan TTSnya. Sementara Vivin masih sibuk dengan sms-sms yang masuk ke ponselnya. Sedangkan Mbok Ijah sudah masuk ke alam mimpi tempo dulunya.

“Took ... tok ... tok ...” suara pintu kostan duet imoet di gedor dengan keras

“Tok ... tok ....” semakin keras, rusuh dan tergesa, seperti perampok kebelet pipis yang berniat menggondol barang yang ada di dalam rumah.

Tata dan Vivin bersamaan keluar kamar, tampang mereka yang kusut mampu membuat siapa saja yang melihat semakin gemas.

“Siapa sih Ta ? Malam-malam begini kok bertamu, ganggu istirahat orang aja” Vivin yang agak tempramen mulai geram.

“Huaaa ... aku gak tau Vin, paling rampok” jawab Tata sekenanya sambil menguap menahan kantuk yang teramat sangat.

“Tok ... tok .... “ suara ketukan terdengar lagi. Kini Mbok Ijah ikutan bangun dia hanya mamakai daleman kebayanya yang berbentuk seperti kutang nenek-nenek.

Ketiga wanita penghuni kostan Pak totok mulai sedikit panik, masing-masing memegang benda yang mungkin bisa di gunakan untuk membela diri.

“Tokkk .. tokk .. ! aduuuhh .. tooolooongg … Mbak Vivin … Mbak Tata .. tolong saya … aduuuhhh … huh ..huh … “ kali ini ketukan pintu diikuti suara seorang wanita yang teriak-teriak sambil sesekali merintih.

Ketiga wanita yang berada di dalam rumah saling berpandangan, spontan saja benda yang tadinya hendak mereka gunakan untuk membela diri langsung mereka lempar dengan sembarangan. Lalu Vivin yang gesit langsung membukakan pintu sementara Tata dan Mbok Ijah membuntutinya di belakang.

“Ya ... ampun … Mbak Inah kenapa ? kok perutnya gede begini? Kembung ya ?” Tata yang suka sok lugu mencoba berkomentar. Sementara si mpunya perut tak mengacuhkan pertanyaan Tata, dia sibuk memegangi perutnya yang besar.

“Aduuh … Neng Tata, plis deh ini bunting namanya” Mbok Ijah menyahuti pertanyaan bodoh Tata

Tata, Vivin dan Mbok Ijah dengan gesit segera memapah Mbak Inah ke sofa yang ada di ruang tengah. Ketiganya diserang kepanikan, sementara Mbak Inah terus teriak kesakitan sambil sesekali mencoba mengatur ritme nafasnya.


“Aduuhh .. Mbak .. aduuh Mbok .. kayaknya saya mo ngelahirin neh, haduuuhhh sakiiit gak kuat ! huh ..huh .. !" Mbak Inah terus berteriak, keringatnya bercucuran, nafasnya tersengal-sengal, gerakan tubuhnya belingsatan gak bisa diem kayak cacing kedinginan.

“Yeee … Mbak Inah gimana sih ?! udah tau mo ngelahirin, kok malah lari ke kostan kita, bukannya ke dukun beranak” ujar vivin sedikit ketus karena panik melihat keadaan Mbak Inah

“Ho oh nih .. bikin kita takut aja” Tata mengipasi Mbak Inah dengan buku TTSnya. Saking paniknya Tata tidak sadar kalau kipas yang dia gunakan adalah TTSnya yang baru saja dia beli sore tadi. Kalau nanti dia sadar pasti bakal teriak keras melebihi teriakan Mbak Inah yang mules- mules.

“Neng Tata … Neng Vivin .. udah jangan pada marah-marah, mending kita bantuin aja, biar gini-gini si Mbok pernah jadi asisten dukun beranak. Insyaallah si Mbok bisa bantu” Mbok Ijah segera merebahkan badan Mbak Inah di sofa. Tata dan Vivin makin panik, perut mereka ikutan mules.

“Aduuuhh … Mbok … sakiiiittt Mbookkk … tooolloooonggg … !! Mas Imron .. tolooong Mas .. huuh ..huh .. “ Mbak Inah makin belingsatan kayak orang kesurupan, dia teriak-teriak memanggil suaminya.

“Mbak emang Mas Imronnya kemana? Kok gak keliatan batang idungnya” Vivin celingak celinguk keluar rumah mencari sosok seorang Mas Imron suami kesayangan Mbak Inah.

“Haduuhh … anu Mbak Vin, si Mas lagi dinas ke Madura … kemarin sore berangkatnya … huh ..huh .. “ Jawab Mbak Inah sambil menahan rasa sakitnya. Mbok Ijah sudah mulai siap siaga, kaki Mbak Inah di buka lebar-lebar supaya anak yang ada di dalam perut Mbak Inah mau cepet keluar.

Tata dan Vivin memegangi tangan Mbak Inah yang gak bisa diem, barusan vas bunga yang ada di meja di ambil dan di banting seenaknya. Tata sempet ngomel tapi langsung mereda karna teriakan Mbak Inah memenuhi seluruh ruangan itu.

“Huh … dasar suami tidak bertanggung jawab, udah tau bininya lagi hamil tua, eehhh … malah di tinggal ke Makasar.” Tata mulai sewot lagi, Vivin yang berada di samping Tata hanya manggut-manggut.

"Huh.. huuuh.. Madura Mbak.. bukan Makassar.. huh. huuuuh.." Mbak Inah mengoreksi ucapan Tata sambil terus menahan sakit yang amat sangat.

"aduh... aduh... adoouuwww.... huh.. huh...!" Mbak Inah terus berteriak kesakitan sambil memegangi perutnya, Mbok Ijah mulai menuntun Mbak Inah untuk mengatur napasnya dan memberi aba-aba kepada Mbak Inah untuk mulai mengedan.

"Nyebutt mbak, nyebut... nyebut..." saran Tata sok religius.

"Nyebuttttttttttttttt... nyebuuutttttttttttt!" Teriak mbak Inah. Rupanya mbak Inah sudah kepayahan berpikir.

*****

Dua jam sudah berlalu tapi mbok ijah belum berhasil mengeluarkan dede' bayi yang lagi ngumpet di kantong rahim mbak Inah. Keringat Mbok Ijah berlarian di dahi dan kebayanya sudah kuyup. Air hangat yang tadi disediakan untuk membantu prosesi kelahiran juga sudah mulai dingin. Tata dan Vivin mulai gusar, takut kalau adik bayi susah keluar karna belum ada jalur busway.

Mbok Ijah komat kamit mirip dukun yang biasa dilihat di tipi tipi kelir, ia membebat kepalanya dengan kain selendang yang dulu ia pakai jika sedang bertugas jadi dukun bayi. Tak lupa ia menyelipkan sirih ganja ke dalam mulutnya lalu menyembur-nyemburkan ampasnya kebagian perut Mbak Inah. Katanya sih untuk mengurangi rasa sakit dan memperkuat kontraksi supaya lebih lancar.

"Mbok.. masih lama ya?" akhirnya Vivin bertanya juga. Karna dilihat Mbok Ijah juga sudah kepayahan.

"Tenang Neng... bentar lagi kayaknya. Si dedenya bandel nih..! betah banget didalem. banyak maenannya kali ya?" Ucap Mbok Ijah asal.

"Aduh... Mas Imron... Imron..! huh.. huh.. huh...!" Mbak Inah terus saja berteriak-teriak memanggil nama suaminya itu.

"Tenang mbak.. sabar.. bentar lagi..!" Vivin mencoba menenangkan Mbak Inah.

Mbok Ijah memijat mijat perut Mbak Inah sambil sedikit mendorong. Sedangkan sesekali Vivin mengelap keringat Mbak Inah dan Mbok Ijah yang semakin deras mengucur.

"Teruss.. Mbak.. terus mbak.. ngedennn ngedennya dikuatin. Jangan nunggu Mas imron dateng mbak...!" ucap Vivin sok tau. Dan teriakan Mbak inah semakin kencang karena ucapan Vivin itu.

Jam sudah menunjukkan pukul 23.55 dan kost-an pak totok masih brisik. Dipenuhi suara suara menyeramkan. Untung saja para tetangga masih asyik lelap di bawah selimutnya masing masing.

"Ow... ow.... ow.. oweek... ngak.. ngak.. ngak......!teng.. teng.. teng.. teng..." bayi itu akhirnya keluar dan menangis keras sekali, mengalahkan teriakan ibunya. Pas ketika pak satpam perumahan mendentingkan tiang listrik dua belas kali. Kali ini Tata langsung berlari tergopoh gopoh menuju ruang tengah tempat berlangsungnya persalinan Mbak Inah.

"Selamat Tahun Baru semua..!"teriak Vivin kenceng berusaha mengalahkan suara dede' bayi.

"Sudah ya...! suara kenceng banget...!"tanya Tata sambil berteriak.

"Iya... lu gak liat apa... nih bayi masih merahh...!" jawab Vivin tak kalah keras. Mereka berdua bercakap cakap dengan berteriak karena bayi yang baru lahir itu brisik sekali.

"Wah ini bayi lahir tanggal 1 Januari 2008 atau 31 Desember 2007 ya?"tanya Tata keras-keras.

Tata dan Vivin berdebat masalah waktu kelahiran si jabang bayi yang ternyata berkelamin laki- laki itu.

"Sapa nih Vin.. yang bakal ngadzani? nunggu bapaknya keburu telat. Kamu tadi dah teriak selamat tahun baru dikupingnya!" tanya Tata gelisah.

"Aduh iya ya... tadi reflek aja tuh teriak gitu... lupa... klo lagi gendong dede'! jawab vivin berusaha ngeles.

*********

Selagi mereka berdebat soal tanggal dan siapa yang bakal mengadzani bayi laki lai itu diluar terdengar suara ribut ribut. semakin lama suara itu mendekat ketempat kost-an duet imoet. Malam itu menjadi mencekam suara Tata dan Vivin pun tenggelam perlahan.

"Tok.. tok.. tok... mbok....!!! Mbak Vivinnnnnnnnn Mbak Tataaaaaaaaa!" suara diluar begitu ribut.


"Assalamualaikum .... Mbak Vivin ... Mabk Tata ... tolong buka pintunya! ini saya Pak RT" Suara Pak Rt terdengar kencang tapi berwibawa, sementara suara-suara di belakang Pak RT amat sangat rusuh dan tak terkendali. Suara-suara mereka sudah seperti buruh yang satu tahun belum digaji.

"Aduuhh ... ada apa ini?" Vivin yang masih bingung dengan keadaan di dalam rumah, kini makin panik karena kerusuhan di luar. Mbok Ijah kini mulai membersihkan dede bayi yang baru saja lahir dan Mbak Inah tertidur karna masih keletihan.

"Iya ...iya ... Waalaikumsalam" Vivin segera bergegas membuka pintu, dan Tata menemani sambil berdiri di belakangnya.

Spontan saja Tata dan Vivin kaget dengan apa yang mereka lihat. Hampir seluruh warga yang berada di sekitar kostan mereka, malam ini kumpul semua di halaman kostan mereka. Ada Pak Rt yang di buntuti dengan Bu Rt, ada Pak Madun dan anaknya yang terkenal tampan di daerah sini, ada Pak Rudi yang biasanya gak pernah kumpul sama warga, ada Pak Tukino si tukang jagal, ada Pak Waryo yang hoby ternak buruk dara, dan masih banyak lagi Bapak-bapak dan beberapa kaum Ibu yang ikut berkumpul di depan kostan milik Pak Totok.

"Wah ... wah ... rame sekali? Ada apa? Tumben berkunjung ke kostan kami. Mo bikin acara Tahun baruan" Sapa Tata yang sewot melihat banyaknya orang didepan pagar Kost-an.

"Huuuuhhh .... pura-pura gak paham lagi !!" teriak para Ibu-ibu yang memang suka lebih rusuh dibanding Bapak-bapak. Maklum saja Ibu-ibu di lingkungan sini memenag terkenal kompak, saking kompaknya mereka menyoraki Tata dan Vivin secara bersamaan dan membabi buta *halah berlebihan.

"Usir mereka... usir pembuat rusuh....!" Ibu ibu itu berteriak tak terkendali. celotehnya menyeramkan apa salah duet imoet kok malah diusir.

"Tenang .... tenang ... Ibu-ibu, kita jangan bersikap seperti anak-anak" Suara Pak RT yang lantang berusaha mencoba menenangkan.

"Iya .. tenang Ibu-ibu ... ini sudah malam tolong jangan rusuh" Tata mulai agak emosi, mungkin karena pengaruh rasa capeknya. Vivin langsung mencubit pinggang Tata seraya memberi kode supaya Tata jangan bicara seenaknya di depan orang-orang yang berada di depan mereka.

Mereka sangat heran ada apa warga ngelirik kostan mereka, apa salah dan dosa yang sudah diperbuat. Mana pakaian yang dipakai gak sopan ada yang pake' baju kutang duh dah pada belekan semua. Kalau di depan cowok-cowok cakep si gakpapa *halah

"Jadi begini Mbak Tata ... Mbak Vivin. Mohon maaf sebelumnya kalau kami mengganggu istirahat Mbak berdua" Pak Rt mulai angkat bicara. Mo tau gak Pak RTnya mantan coverboy loh.

"Iya ... gak papa. Ada apa yak Pak?" Tanya Tata gak sabar.

"Beberapa jam yang lalu saya dan beberapa warga mendengar ada suara ribut-ribut di kostan kalian" kini Pak Waryo ikutan bicara.

Beberapa bulan yang lalu rumah Pak Waryo juga pernah disatroni warga seperti ini, penyebabnya adalah burung-burung dara milik Pak Waryo. Saat itu warga minta supaya Pak Waryo membasmi burung-burung daranya, karena takut kena flu burung. Tapi saat itu pak Waryo menolak keras, karena dia menjamin kalau burung-burung daranya gak mungkin kena flu.

"Lah wong tiap hari saya mandikan pake air hangat, gak pernah keluyuran malam-malam, dan burung-burung saya juga rutin minum vitamin, jadi ndak mungkin kena flu" begitu kata Pak Waryo saat itu.

Memang di situ warganya peduli terhadap sesama dan hal sekecil apapun pasti seluruh warga akan tahu. Termasuk kejadian malam ini.

"Keributan apa Pak? keributan seperti apa? sejak sore tadi kami gak pasang musik keras-keras, kami juga gak berantem, dari tadi kami adem ayem" Jawab Tata sambil melirik Vivin, dan Vivin pun mengangguk membenarkan ucapan Tata.

"Bukan begitu, jadi begini. Tadi kami mendengar suara wanita teriak-teriak bilang Aduh, seperti orang sedang disiksa." Kembali Pak Rt menjelaskan.

Tata dan Vivin saling adu pandang lalu hanya diam, sehingga membuat para warga makin penasaran dan sedikit kembali rusuh.

"Tenang ... tenang ... ! jangan pada ribut begini, kalem jangan katro!" teriak Pak Tukino sambil mengajungkan goloknya. Sepertinya dia lupa meletakan goloknya sehabis menjagal.

"ow.. ow.. owek...ngok.. ngok..." bayi Mbak Inah menangis keras.

Para warga dan pak RT langung diam mencoba menangkap suara tangis itu. wajah mereka berkerut dan sok serius.

"Mbak.. ada bayi ya? bayi siapa?" tanya Pak Tukino hampir berbisik.

"Oh.. eh.. iya bayi.. bayinya Mbak Inah barusan aja lahir. Disini, di kostan kami" jawab Vivin.

Akhirnya Tata dan Vivin harus menceritakan kejadian yang barusan mereka alami di kost-an mereka. Tahun baru yang menggemparkan tak ada petasan, tak ada konvoi, tak ada pesta. hanya ada kelahiran jabang bayi laki laki tepat jam 12 malam waktu Kost-an duet imoet. Dan malam itu seluruh warga bermalam tahun baru di kost-an duet imoet sambil buat pengajian kecil untuk si dede'. Oiya.. si dede' akhirnya diadzani oleh Mas Bayu yang kebetulan juga ikut berdemo. Tata akhirnya gagal beristirahat, dan ia lupa pada rasa capeknya. Akhir tahun yang melelahkan tapi besok pagi pasti akan cerah karna tahun sudah berganti dan ada kelahiran manusia kecil pembawa berkah. Selamat Datang 2008, Selamat Datang dede' Kecil....!!

Label:

 
posted by Duet Imoet at 01.23 | Permalink | 0 comments
Kamis, 15 November 2007
Duet_imoet Punya Cerita ... (part 2)
Sudah satu jam menunggu taksi, tapi tidak ada satupun yang melintas di depan mereka. Tata dan Vivin sudah mulai manyunin mulut sepanjang 3 inchi. Mungkin malah mulut manyunnya itu bisa dipakai untuk memberhentikan taksi.

"Duh... kemana semua nih taksi. Apa ada demo lagi ya?" ucap Vivin lemah.

Memang akhir akhir ini sering ada demo di perusahaan taksi mulai dari demo onderdil mobil sampai demo produk oli. Jaman emansipasi siapa saja boleh ngadain demo tidak hanya ibu- ibu PKK tapi bapak - bapak, nenek- nenek, kakek- kakek bahkan sampai anak-anak.

"Vin... laper nih! makan yuk! bisa pingsan aku nanti" Tata rupanya tidak betah menahan lapar.


Akhirnya mereka berdua mencari sebuah warung. Tata memesan jeruk nipis hangat dan seporsi nasi soto. Sedangkan Vivin memesan 2 gelas es teh dan seporsi nasi soto dan sepiring gorengan. Sebenarnya yang lapar siapa ya? kok Vivin banyak sekali memesan makanan, semua serba double. Kecil-kecil makannya banyak, ikh.... serem.


Selesai makan mereka berdua melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Sambil tetap berharap dapat taksi. Vivin kembali bersemangat ia kadang berlari kecil melihat-lihat sesuatu yang dianggapnya menarik sedangkan Tata masih sibuk celingukkan menunggu taksi yang sudah diharapkan.

“Ta .. Ta ... taxiiiiiiiiiii ...!!” teriak Tata, gayanya sudah seperti iklan di TV *ituloh iklan nenek-nenek yang teriak kenceng saat manggil taxi.

“Haduuuhh ... kira-kira dong Ta, teriaknya kenceng banget, kalo orang-orang pada denger gimana? nanti dikiranya kita lagi diperkosa bencong” gumam Vivin yang mulai merasa aneh dengan kelakuan teman barunya.

“Hehehehe ... ya bagus toh Vin, kalo orang-orang denger, sapa tau nanti mereka nyamperin kita, trus kan kita bisa minta bantuan mereka buat nyariin taxi,” Ujar Tata dengan santainya.

Matahari perlahan mulai turun, hampir saja redup dan dua perempuan imoet itu masih belum sampai tujuan, mereka masih berputar putar dengan sopir taxi yang aduhai manisnya. Hari yang cukup melelahkan bagi kedua manusia imut ini. Tujuan pertama mereka memang ke MP book Point untuk menemui salah satu teman Tata yang katanya punya info tentang tempat kost murah dan nyaman.

*********

Setibanya di MP Book Point ternyata sedang ada pesta kecil milik temannya teman si Tata (pokoknya tata punya temen lha temennya itu punya temen lagi! nah khan bingung jadinya?) intinya Tata dan Vivin datang tanpa diundang dan pastinya sekalian numpang makan-makan disana. Biarpun gak kenal dengan para tamu yang dateng disana, mereka berdua kliatan asyik sekali menikmati hidangan yang tersedia.

"Ta.. ssssstt.. enak banget yaa..! makanannya? temenin gue ngambil lagi dong"Bisik Vivin tanpa malu-malu lagi pada teman barunya itu.

"Ayo.. Vin aku juga masih laper. Tuh yang dipojokan aja ngambil rendang ama sop merah. Sepiring aja ya.. biar gak kliatan rakus" wah rupanya mereka berdua kompak dalam hal yang menyangkut gratisan.

Tamu-tamu di sana tidak ada yang peduli pada tingkah polah Tata dan Vivin, hanya saja sesekali tertawa cekikian mereka yang nyaring membuat beberapa tamu menoleh kepada dua makhluk antik namun imut itu.

Tidak lama setelah makanan yang mereka lahap habis mereka pun mencari teman Tata yang sedang nongkrong di dekat meja hidangan (kayaknya teman tata sengaja mendekatkan diri dengan makanan) hehehehe... sama saja rupanya.

Lalu mereka berdua pamit dan mencatat alamat yang diberikan oleh teman Tata. lalu dengan segera mereka keluar. Tapi sebelum sempat mereka melangkahkan kaki lebih lanjut.

"Eh.. Mbak.. Mbak..!!" ada suara sumbang yang memanggil mereka. Vivin dan Tata saling sikut.

"Waduh Vin.. onok opo ikiee.. mbayar tha? gak mbawa duit lebih!" Tata gemetar juga mendengar teriakan itu, langsung saja logat jawanya keluar dengan fasihnya.

"Tenang Ta, kita hitung sampai tiga... lu buka pintu trus kita lari bareng-bareng okeee...?!" Bisik Vivin tak kalah gusar.

"Sa..tu...! Du...a...! Ti......ga....!!!!!!! Kaburrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr" Tata mengaba-abai pelarian pertama mereka.

Tata dan Vivin pun lari sekencang-kencangnya, sampai di ujung jalan barulah mereka berhenti.

"hosh... hossh.... haduh Ta... capek...! cepet amat lu larinya. Kaki lu enak panjang.. lah gue.." Vivin masih mencoba mengatur nafasnya.

Tata yang tak kalah takutnya sudah terduduk lemas sambil memegang dadanya yang berdegup kencang. Dan tidak ada satupun kata yang keluar dari mulutnya hanya helaan nafas panjang. Setelah mereka merasa sudah cukup tenang barulah mereka berdiri dan mencari barang bawaan masing-masing.

"Viviiiiiiiiiinnnnnnnnn!!!" teriakan Tata histeris. Vivin yang baru saja menarik nafas lega terkejut.

"Ada apa Ta...?"

"Ta..ta...sku... ba..rang barang..kuu ketinggalan...!" ucap Tata terbata bata.

"Akh.... gimana sih luuu Ta.. ya dah ayo balik lagi aja. berarti tadi ada yang manggil bukan karna kita disuruh bayar tapi mo diingetin klo barang bawaanmu ketinggalan" oceh Vivin panjang lebar.

Dengan langkah gontai merekapun harus kembali ke MP book point. Tidak seberapa jauh tapi mereka malu sekali, ketika harus masuk ketempat itu lagi. Sambil cengar-cengir mereka menanyakan barang milik Tata yang tertinggal disana. Untung saja para tamu tidak banyak yang tahu, kecuali teman Tata yang tersenyum penuh arti.

********

Setelah dari MP book point dan mendapat informasi keberadaan kostan murah nyaman dan menguntungkan (hasyah kayak iklan nih..) mereka berdua bergegas mencari alamat pemilik kostan tersebut. Berdasarkan informasi, si pemilik kost rupanya memang sedang butuh orang yang mau menjaga dan mengisi rumah kosongnya. Maka dengan semangat Tata dan Vivin yang tak pernah habis, akhirnya malam itu juga mereka memutuskan untuk menemui si pemilik rumah kosong tersebut.


"Ya .. ya .. benar sekali saya memang memiliki rumah kosong, yang rencananya memang akan saya sewakan, dari pada dihuni hantu lebih baik dihuni sama kalian, dua perempuan imoet" kata Pak Totok sambil tertawa genit. Kumis tipisnya yang berjejer mirip serombongan semut sedang menggali liangnyapun naik turun. Vivin dan Tata tertawa kecil sambil menahan HIV alias Hasrat Ingin Vivis.

"Terimakasih .. maturnuwun ya Pak, lalu kapan kita bisa nempatin rumahnya" tanya Vivin antusias, maklum saja Vivin sudah membayangkan rumah yang lumayan besar yang akan di huninya bersama Tata

"Terserah adik-adik saja, mau besok juga boleh kok" Jawab Pak Totok bijak tanpa gaya genit, jelas saja sekarang istri Pak Totok sudah duduk manja di sampingnya.

"Kalau malam ini saja bagai mana Pak ?" Lagi-lagi Vivin lebih antusias, sedangkan Tata hanya senyam-senyum saja, mungkin karena terlalu bahagia sehingga dia tak sanggup berkata-kata.

"Sebaiknya besok saja, karena jaraknya cukup jauh, kalian mesti menempuh perjalanan selama empat jam." Pak Toto segera melirik istrinya, seolah seperti memberi isyarat.

"Iya .. besok pagi saja, untuk malam ini kalian bisa menumpang di sini, di belakang ada kamar kosong dan bisa kalian gunakan untuk malam ini." duh ... ternyata Bu Titik istrinya Pak Totok baik juga. Awalnya saat pertama kali melihat Bu Titik, Tata dan Vivin mendadak mules, lantaran tampang Bu titik yang jutek abis.

Dan ternyata informasi itu benar adanya, Pak Totok memang orang yang sangat baik. Dia tidak memberi syarat yang berat untuk Tata dan Vivin, uang kostnyapun murah bahkan Tata sudah menghitung hitung keuntungan yang bakal didapat dari uang kiriman orang tuanya dikampung. Tata cengengesan aja mendengarkan jumlah uang yang harus dibayarkan tiap bulannya. Sedangkan Vivin mengangguk-angguk tanda ia sangat setuju persayaratan dari Pak Totok. Malah Pak Totok memberi seorang pembantu yang akan membereskan tempat kost mereka. *hah ... nikmat bukan, mo cari dimana orang macam Pak Totok ini, baiknya bukan main.

"Addduhhhh....Paaak.... " tiba-tiba aja Tata berteriak. Untungmya Pak Totok tidak punya penyakit jantung.

"Kamar mandi di mana ya..... Pak..haduh.. dimana pak.. pak...?!" Tata sudah tidak tahan ingin menemui tempat favoritnya. Konon dulu Tata pernah bercerita pada Vivin, kalau WC itu tempat paling nyaman dan aman karena di sana dia bebas berekspresi.

"Yaaaaa............." Karena panik mendengar pertanyaan Tata yang tak sabar, pak Totok jadi sedikit berteriak kencang.*sepertinya Pak Totok punya penyakit latah

Pak Totok yang belum hilang rasa terkejutnya langsung menunjuk ruangan di sudut rumah. Vivin yang baru tau keajaiban lain dari teman barunya itu cuma cengar-cengir menunggu giliran ke kamar mandi juga. maklum Vivin ini masih agak jaim alias jaga iman. hehehehe...

Dan akhirnya malam itu mereka dipersilahkan Pak Totok untuk menginap di sana, sambil menunggu besok pagi. Untung saja ada yang mau menampung mereka. Kalau tidak, dua makhluk imoet itu akan berkeliaran di terminal menunggu hari berganti.

Label:

 
posted by Duet Imoet at 11.31 | Permalink | 0 comments
Jumat, 09 November 2007
Duet_imoet Punya Cerita .. (part 1)

Sesuai perjanjian yang sudah disepakati beberapa minggu yang lalu. Hari ini tepat pukul lima sore mereka akan bertemu disini, di stasiun kota ini.


Seorang gadis mungil rambutnya digelung kecil, tampak imoet dengan mengenakan kemeja hijau dengan sedikit motif renda. Ia begitu sibuk dengan ponselnya, mencoba menghubungi seseorang yang entah berada dimana. sambil sesekali matanya bergerilya mencari bangku kosong untuk melepaskan letih.

“Haduuuh … mana si dia, udah jam lima lewat nih, rame pula stasiunnya! gue kan takut di culik kalau lama-lama disini” Bisik risau gadis berkemeja hijau tadi.


Sementara dari kejauhan tampak seorang gadis bertubuh tinggi berparas manis namun berkulit agak gelap, tampak terlihat imoet dengan baju putih dan rambut ikal yang di biarkan terurai. Dia juga sibuk dengan ponselnya dan sepertinya hendak mengirimkan sebuah sms. Dengan santai dia duduk tepat di samping gadis berkemeja hijau tadi.


"Eh nih cewek enak aja duduk, gak pake' permisi. Gak sopan banget sih, untung aja dia tinggi, badannya juga keker. kalo gue cari masalah bisa-bisa gue semaput kena tendang." Gadis mungil itu mulai bersungut-sungut melihat wanita itu duduk disebelahnya.

“Ya ampun .. dari tadi smsku kok pending terus ya, kalau begini ceritanya aku gak bakal ketemu dia, dan parahnya lagi aku gak bakal bisa dateng ke MP.” gerutu gadis berbaju putih, sambil sesekali melihat keadaan sekelilingnya.


Setengah jam berlalu begitu saja, kedua gadis itu masih sibuk dengan pikirannya masing-masing, ponsel yang tadinya mereka utak-atik kini mereka diamkan begitu saja, keletihan nampak jelas di wajah mereka. Mereka berdua terlihat seperti dua orang perempuan yang saling menirukan gerakan. Seperti latihan kerampakan ala teater.


“Aku coba sms lagi deh, sapa tahu kali ini berhasil” gadis berbaju putih mulai sibuk kembali dengan ponselnya, sementara gadis berkemeja hijau sibuk memegangi tas bawaanya.


Vin .. aku udah sampe

Kamu di mana ?

Bls, gpl !!

Pengirim : Tata

081123 sekian-sekian


"Yes terkirim !!" teriak gadis berbaju putih.

Dan hanya selang beberapa detik, ponsel gadis berbaju putih itu berbunyi, dilihatnya layar ponsel berwarna ungu, ternyata orang yang barusan dikirimi sms balik menelponnya.


“Tata .. lo di mana ? gue juga dah sampe dari tadi kale, gue duduk di bangku panjang, samping gue ada cewek manis pake baju putih. Lo dimana Ta ? halo .. haloo !!” Tut .. tuut … telepon tiba tiba terputus.


“Duh .. malah di matiin sih ?! Ini Cewek beneran apa lagi ngerjain gue sih..!” sungut gadis berkemeja hijau, kesal. Ia setengah jengkel karena dulu pernah dikerjain teman sekerjanya, mereka sudah sepakat janjian di tempat A eh malah temennya itu nunggu di tempat X. jauh banget khan?. jadi intinya si gadis berkemeja hijau agak trauma gitudeh.


Sementara itu gadis berbaju putih tertawa cekikikan sambil melihat gadis yang berada di sampingnya.


“Kamu Vivin ya ?” tanyanya


“Iya … elo Tata ?” jawabnya sambil mengulurkan tangan


Lalu mereka berdua tertawa terbahak sampai manusia-manusia yang berada di sekitarnya pun menjadi tercengang. Sekaligus terperangah oleh pesona imut mereka berdua.


“Ya .. ampun deh Ta, dari tadi ternyata kita tuh dah duduk sebelahan, tapi gak nyadar” Vivin yang sedari tadi nampak tegang, kini mulai merasa santai.


“Hahahah … iya ya, habis dari tadi aku sms kamu pending terus. eh makasih ya dah dibilang manis. huwakakakakaka..” tawa Tata menggelegar sambil sibuk merapihkan barang bawaannya. bayangkan saja bagaimana kerasnya Tata tertawa sambil mengangkut barang bawaannya, sudah pasti aneh.


"Maaf Ta.. nyebut cewek manis tadi khilaf. hehehehe.. sebenernya sih tadi sebel, liat cewek asal aja duduk, untung gue keder liat porsi tubuh elo. Kayak preman pasar! huwahahaha...." sahut Vivin tak mau kalah.


Mereka berdua benar-benar jadi pusat perhatian di stasiun itu. Untung saja tidak ada para calon penumpang yang melempar uang koin kearah meraka. Tapi ada sih yang melempar botol aqua kosong. Untuk menyuruh mereka diam dan segera enyah dari tempat itu.

Kedua gadis yang aneh. Ya .. tapi wajar saja karena ini memang pertemuan mereka kali pertama, jadi mereka memang belum benar-benar mengenal satu sama lain, selama ini mereka hanya kenal lewat jasa Internet saja(YM pastinya). Dan pada suatu ketika mereka mempunyai tujuan hidup yang sama yaitu kuliah di sebuah Universitas besar yang berada di kota ini (bukan Jakarta loh ya). Dan mereka pun merencanakan untuk tinggal bersama (maklum di kota ini gak ada orang dekat yang mereka kenal).


“Vin … sesuai rencana awal kita, kamu ikut aku ke MP Point Book dulu ya, nanti disana kita tanya-tanya sama beberapa orang temen aku, barangkali mereka tau di mana ada tempat kost yang murah.” Tata dan Vivin mulai berjalan ke luar stasiun, mereka mulai celingak-celinguk mencari taksi untuk menuju ke MP.




Label:

 
posted by Duet Imoet at 18.50 | Permalink | 0 comments
Jumat, 21 September 2007
Pak Mahmud yang Malang

"Aduh... panas banget sih Vin!" udara siang ini memang begitu panas. ini pasti imbas dari global warming. Tata yang baru saja pulang dari bengkel langsung ngomel gak jelas.


Hari ini memasuki puasa ke- 8, Mbok Ijah semakin getol saja berburu resep masakan. Tata seperti biasanya menghabiskan waktu dengan mengutak-atik TTS. Puasa begini tinggal Vivin yang tidak ada kegiatan, karna kebiasaan ngemil kripik singkong harus tertahan sementara. Dan jadwal kencannya dengan Mas Andi juga harus di kurangi.


“Ta.. enaknya ngapaian ya? duh dikampus lom ada kegiatan, di rumah gak ada kegiatan." sekarang gantian Vivin ngomel gak jelas.


Maklum ketiga manusia centil itu sudah kehabisan ide mengisi bulan puasanya. Hari sebelumnya Tata, Vivin, dan Mbok ijah sempat berjualan es cendol, es buah sampai es teler di depan kostan. tapi akhirnya tutup karna bangkrut. Modal gak pernah balik. si Tata dan Vivin selalu mentraktir teman temannya kalau datang ke warung mereka. walhasil Mbok Ijah nggondok dan gak mau lagi bantu jualan dan buatin es.


Awal-awal puasa kali ini Tata dan Vivin memang belum mempunyai kegiatan, SANLAT yang di koordinatori oleh mereka baru akan di mulai pertengahan puasa nanti, dan jadwal kesibukan kampus juga mulai aktif pertengahan puasa juga. Namun Tata dan Vivin menjalani penuh dengan kehusyu'an, begitupun Mbok Ijah yang selalu setia menemani. Mereka Sahur bersama, berbuka puasa bersama, sampai sholat Tarawih bersama, dan kegiatan rutin mengaji bersama Mas Bayu juga tetap berjalan.

******

“Ta ... siapa tuh yang duduk di depan pagar kostan kita?” tanya Vivin saat mereka berdua pulang sholat tarawih.


“Iya .. ya .. siapa ya, kok kayaknya asing deh, aku gak pernah liat orang itu sebelumnya” Tata dan Vivin mempercepat langkahnya, perasaan mereka agak sedikit tak enak, curiga juga takut kalau-kalau lelaki yang duduk di depan gerbang kostannya adalah orang jahat.


Sesampainya di depan gerbang kostan, Tata dan Vivin saling adu pandang, ternyata pria yang duduk di depan gerbang kostan mereka adalah seorang Bapak tua, kalau di perkirakan usianya tak jauh beda dengan Mbok Ijah.


“Bangunin aja Vin! Menghalangi jalan nih, kita kan mo masuk ke dalem” Bisik Tata ke telinga Vivin.


“Iya .. tapi harus sopan banguninnya, ini orang tua tau!” Vivin mendekati Bapak tua itu, dengan hati-hati dia membangunkanya, sementara Tata tetap berdiri di belakang Vivin sambil bersiap siaga, maklum saja meski Tata orang yang cuek tapi dia mempunyai sifat yang selalu barhati-hati dan tidak mau gegabah, semua yang akan di lakukanya di pikirkannya dengan matang, meski tak jarang hasil dari pemikiranya hanyalah nol besar ... hehhehhehe.


“Pak .. Pak .. bangun Pak !” Vivin mulai membangunkan Bapak tua itu, dan ternyata agak susah membangunkan Bapak tua itu. Suara Vivin yang cemprengpun tak cukup jitu untuk membangunkanya. Vivin yang agak sedikit tempramen mulai kesal, karena Bapak tua itu tak juga bangun.


“Pak .. Pak .. bangun donk Pak!” nada suara Vivin makin tinggi, sementara Tata hanya berdiri sambil cengar-cengir melihat tingkah Vivin yang mulai senewen.



Dengan sedikit mengguncangkan badannya dan sedikit berteriak di dekat telinga bapak tua itu, akhirnya bapak tua itu bangun. Vivin dan Tata tersenyum ramah memandangnya.


“Aduhh .. maaf Mbak saya ketiduran” Bapak tua itu segera bangkit dan berdiri namun agak sempoyongan, mungkin karena ia kaget karena dibangunkan oleh dua orang gadis imut. Hehehh


“Bapak siapa? Kenapa tidur di sini?” Tanya Tata penasaran


“Saya … saya Mahmud. anu Mbak, maaf saya kecape'an jadi sembarang tidur saja.” Jawab Bapak tua itu sambil merapikan kain sarungnya yang tadi ia gunakan untuk alas tidurnya.


Kasihan sekali Pak Mahmud, beliau menceritakan bagaimana kisahnya hingga beliau berada di depan pintu pagar kostan. Rupanya dia sedang dalam perjalanan mencari keluarganya di kota ini. Tapi setibanya beliau disini ternyata keluarganya sudah pindah kontrakan. Dan sekarang beliau kehabisan bekal buat pulang dan membeli makanan. Terpaksa ia menggelandang sembari mencari rumah keluarganya.


Karena Tata dan Vivin adalah gadis-gadis yang ramah, baik hati serta suka menolong, maka tanpa ragu dan curiga Tata dan Vivin mengajak Bapak tua itu masuk ke kostan mereka. Dan dengan seketika wajah Bapak tua itu terlihat sumringah, senyumnya mengembang dari bibirnya yang keriput.


“Assalamualaikum … Mbok Ijah … Mbok !” teriak Tata dan Vivin bersamaan. Mbok Ijah memang sudah pulang dari tadi. Belum sampai teraweh selesai Mbok Ijah sudah pulang katanya perutnya sakit.


“Waalaikumsalam …. Iya sebentar” Jawab Mbok Ijah dari dalam rumah dengan menjinjing jaritnya, ia datang tergopoh-gopoh membukakan pintu.



Wajah Mbok Ijah langsung berubah seratus delapan puluh derajat waktu melihat wajah dekil milik Pak Mahmud.



"Eh.. sapa nih neng? kok di suruh masuk?" tanya Mbok Ijah penasaran.

Tatapan Mbok Ijah menyelidik dari ujung rambut, ubun ubun, sampai telapak kaki. Pak Mahmud yang sadar sedang diamati jadi salah tingkah, keringat dingin mengucur dari dahinya, berdirinya jadi sempoyongan. Lagak Pak Mahmud sudah seperti pemuda pemalu yang sedang diawasi seorang perempuan cantik.


*********


"Eh Vin... Pak Mahmud diapain ya enaknya?" Tata bertanya pada Vivin setelah buntu ia berpikir sendiri. akhirnya dibukalah diskusi hari ini. Sudah 3 hari Pak Mahmud tinggal di kostan tanpa sepengetahuan pak Totok. Mbok Ijah mulai bertanya pada Vivin dan Tata bagaimana nasib Pak Mahmud kalau Pak Totok tahu dia tinggal di sini.


"Mang mo lu apain Ta..? ya udah biarin aja! Tapi... iya ya kasian juga dia disini kerjaannya gak jelas. jadi tukang kebon, kita gak punya kebon. jadi supir kita gak punya mobil. jadi pembantu, kita dah punya Mbok Ijah. trus dikasih tugas apa ya Pak mahmud?" Mata vivin yang kecil lincah berputar putar.


"Grombyang... klunthang.. eh...eh... pak... haduh....!"konsentrasi Tata dan Vivin jadi buyar lantaran mendengar suara ribut Mbok Ijah. Di belakang ternyata Mbok Ijah dan Pak Mahmud sedang berdebat soal membuat kandang ayam. mereka berdua tampak kompak. Sebenarnya sudah lama sekali Mbok Ijah ingin punya kandang ayam dan dengan keberadaan Pak Mahmud kali ini, maka tercapailah keinginan Mbok Ijah.


"Ada apaan tuh dibelakang Ta.. brisik sekali..!" tanya Vivin kaget. ia langsung melongok kebelakang takut ada sesuatu hal terjadi.


"Halah udah biarin aja..!Eh .. fokus dong, biarin aja Mbok Ijah sama Pak Mahmud asik di belakang. Sekarang ayo mikir lagi Vin" Tata tampak serius memikirkan masalah ini, Tata cukup khawatir kalau nanti Pak Totok tahu soal ini. Mereka bisa jadi diusir dari kostan, mau cari kemana kostan yang nyamanya bukan main seperti di kostan milik Pak Totok ini.


"Tumben lu Ta serius banget, hehheheh ... Iya nih gue juga bingung enaknya digimanain tuh Pak Mahmud. Mana di kota ini dia gak punya keluarga lagi" Tata dan Vivin mulai asik bermain dengan pikirannya masing-masing.


Pak Mahmud memang terlihat sebagai orang baik baik, Tata dan Vivin percaya itu sejak pada pandangan pertama. Tapi bagaimanapun juga dia adalah orang asing di rumah itu. Vivin dan Tata tidak bisa seenaknya memasukkan orang lain tanpa sepengetahuan pemilik rumah. itu berarti Pak Mahmud tidak bisa tinggal terlalu lama di kostan. Sudah pasti para tetangga nakal menjadikan Tata dan Vivin bulan bulanan mereka. Apalagi tetangga yang suka usil dan syirik pada keimutan dua perempuan ini.


Minggu depan Tata dan Vivin juga akan disibukkan dengan kegiatan yang akan membuat mereka jarang dirumah. dan itu berarti mereka akan meninggalkan Mbok Ijah dan Pak Mahmud berdua saja dirumah. Ya ... meskipun mereka berdua sudah tua, tapi yang namanya setan tetap saja bakal mengganggu, kan gak lucu kalau nantinya Mbok Ijah MBA. Wakakakka...


"Ta .. gimana kalau kita minta saran sama Mas Bayu" kali ini Vivin menunjuk Mas Bayu untuk persoalan yang mereka hadapi, berhubung Mas Bayu adalah guru ngajinya Mbok Ijah dan secara otomatis Tata maupun Vivin mulai akrab dengan Mas Bayu.


"Mas Bayu...? kok Mas Bayu sih Vin?? kenapa kita gak ngomong aja sama Pak Totok, sapa tau aja waktu itu udel*nya pak Totok lagi bolong jadi dia ngijinin Pak Mahmud tinggal disini. he..he..he.." Tata mulai mengusulkan sesuatu yang mustahil terjadi.


Dulu Pak Totok pernah bilang ini kostan khusus wanita, jadi yang namanya pejantan, batangan, laki laki cowok, pria atau apalah namanya, haram hukumnya tinggal di kostan itu.


"Dudulzz... lu gimana sih Ta..! lu gak inget larangan pak Totok? kita tanya Mas Bayu aja! siapa tau dia bisa bantuin kita nyari solusi." sembur Vivin.

Kepala mereka pusing memikirkan masalah yang satu ini. Di satu sisi Vivin dan Tata kasihan melihat Pak Mahmud terlantar, tapi dia juga bingung kalau nanti ketahuan Pak Totok.

********

Hari sabtu sore, seperti biasa Mas Bayu datang dengan baju koko yang super wangi. kegiatan rutin Mas Bayu mengajar mengaji Mbok ijah selama bulan puasa memang dimajukan jamnya. Acara belajar Ngaji dimulai jam 3 sore.


"Assalamuallaikum...!" suara merdu Mas Bayu merubah aura rumah yang suram menjadi terang dan sejuk.


"Sssssstt....! gedebuk... sreetttt...! eeuupss..!" Tata yang bertugas menyeret Mas Bayu ke dalam kamar bergerak dengan sigap. Belum sempat Mas Bayu berteriak, Tata sudah sigap menarik paksa Mas Bayu ke dalam kamar.


Acara sekap menyekap Mas Bayu dimulai. Dikamar depan, Vivin sudah siap dengan posisi tubuh yang menantang. Mas Bayu dipojokkan di kamar dengan jendela dan pintu kamar yang ditutup rapat. (woi.. ini bulan puasa Vin.. Ta.. sadar..!) Adegan ini rupanya tidak perlu disensor. Mereka berdua tidak bermaksud jahil pada Mas Bayu, mereka hanya ingin meminta saran untuk masalah yang sedang mereka hadapi. Hal ini dilakukan untuk menjaga kerahasiaan dari telinga Mbok Ijah dan Pak Mahmud juga menyelamatkan diri dari bisik bisik tetangga yang usil. Mas Bayu yang ketakutan untungnya bersikap pasrah dan rela diapaapain oleh dua makhluk imut. Memang dasarnya Mas Bayu yang nyonyo*.


"Astaugfirullah... Vivin.. Tata... mau minta saran aja pake' maen bekep gini. Mas Bayu kan jadi kaget..!" akhinya Mas Bayu bersuara setelah dilepas bungkaman dimulutnya.


Vivin Dan Tata cengar cengir gak jelas. Melihat korbannya kebingungan, akhirnya mereka menceritakan masalah yang sedang dihadapi. Dengan tampang yang sok serius Mas Bayu mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Vivin dan Tata.


"Gini aja Vin.. Ta.. Mas Bayu sih gak ada solusi buat masalah ini. Mas Bayu cuman ada kerjaan buat Pak Mahmud biar dia gak nganggur. Musolah yang Mas Bayu kelola butuh penjaga sekaligus yang bisa membersihkan. Gimana??" ucapan Mas Bayu rupanya memberi angin segar pada Vivin dan Tata.


Senyum Vivin dan Tata langsung mengembang. Hilang sudah satu kekhawatiran, Pak Mahmud akhirnya punya satu kegiatan. sekaang tinggal memikirkan dimana Pak Mahmud bisa tinggal sementara waktu. Sampai dia bisa bertemu dengan keluarganya kembali.


"Trus .. Pak Mahmud tidurnya di mana Mas ?" Vivin kembali memastikan soal tempat tinggal Pak Mahmud


"Ya ... tidur disini aja, kalau siang sampe malam biar Pak Mahmud tinggal di mushola jadi marbot di sana, nah kalau malam Pak Mahmud balik ke kostan kalian" Mas mencoba memberi saran yang terbaik.


"Yeeeee ... Mas Bayu gimana sih?!, kalau Pak Mahmud tetap tidur disini mah sama aja boong. Nanti kalau salah satu dari kita dihamili sama Pak Mahmud gimana ?" Tata memprotes ide Mas Bayu, lengkap dengan manyun manjanya


"Wakakakkakakka... mang masih bisa Ta? " Vivin tertawa mendengar ucapan Tata barusan, sementara Mas Bayu cuma cengar cengir sambil menutupi gigi depanya yang masih tetap ompong.


"Ya .. sudah begini saja, biar Pak Mahmud tinggal di mushola saja, ya itung-itung sambil jagain kotak amal yang ada di mushola." Akhirnya Mas Bayu benar-benar memberi titik terang untuk Tata dan Vivin. Dan sekarang tinggal tugas Tata dan Vivin menyampaikan soal ini kepada Pak Mahmud.


Akhirnya untuk kesekian kalinya Tata dan Vivin mampu menyelesaikan masalahnya, dan kali ini Mas Bayu yang membantu mereka.


"Sudah selesaikan urusannya? Saya mau keluar, gak enak lama-lama di sekap dalam kamar seperti ini, kalau bukan bulan puasa saya sih mau saja disekap sama kalian berdua" Mas Bayu merapikan pakaiannya yang berantakan karena di tarik-tarik oleh Tata dan Vivin sambil senyum senyum kecil menampakkan giginya yang hilang.


"Wakakakkaka .... gak janji deh Mas, kalau bukan karena persoalan ini gak bakal kita nyekap Mas Bayu kayak gini" Tata tertawa terbahak menyaksikan kePeDean Mas Bayu


"Hahahha .. Iya Mas, ngaco aja deh lo Mas. Eh .. iya tapi makasih banget ya Mas dah bantu gue ma Tata, sebagai Imbalanya Mas Bayu boleh buka puasa di sini deh, kebetulan hari ini Mbok Ijah punya menu buka puasa yang Maknyoos."


Sore itu Tata dan Vivin meneruskan kerjaan Mbok Ijah menyiapkan buka puasa. Lalu Mas Bayu kembali melaksanakan tugasnya sebagai guru ngaji Mbok Ijah. sementara Pak Mahmud masih asik di halaman belakang menyelesaikan kandang ayam milik Mbok Ijah. Dan habis buka puasa bersama nanti Tata dan Vivin akan menyampaikan semuanya pada Pak Mahmud, dan semoga saja Pak Mahmud tidak tersinggung dan bisa mengerti keadaan Tata dan Vivin. Amieeen


*******
udel : pusar
nyonyo : doyan





Label:

 
posted by Duet Imoet at 00.26 | Permalink | 0 comments
Selasa, 14 Agustus 2007
Badut Taman Kota

Buruan Vin.. jangan lama-lama dong!” jam 5 sore Tata sudah bersiap-siap di depan pintu kostan,dengan berpakaian trendy, gaul, dan yang pasti imut, Tata akan pergi jalan dengan Vivin.


Haduh … iya .. iya..! Ini kan masih jam 5, pasti tuh orang blom dateng deh Ta. Sabar aja napa !” Vivin menenangkan Tata yang sudah berada digaris start, laganya sudah seperti pasukan yang hendak menyerang markas musuh.


Maklum saja hari ini Tata akan bertemu dengan seseorang yang spesial, pacar baru di dunia maya. Hari ini adalah pertemuan pertama mereka dan Vivin diminta Tata untuk menemani, siapa tau ternyata pacar barunya tidak sesuai dengan bayangan Tata. Sudah sejak dua hari yang lalu Tata sibuk menyiapkan diri. Berbelanja baju, parfum, membenahi mukanya, mematut-matutkan badannya yang tinggi semampai di depan kaca.


Laki-laki itu mengajak bertemu di sebuah taman kota. Sempat terpikir oleh Vivin kalau laki-laki yang akan di temui Tata adalah pemangsa wanita, perampok berdarah dingin, dan bayangan- bayangan seram lainnya, maklum Vivin rada parno sama cowok-cowok yang suka chating di internet, padahal si Mas Andi itu juga dia kenal melalui jasa YM.


Perjalanan kan jauh Vin.. kalau aku terlambat gimana? Kencan pertama nih..! kamu sih enak ada Mas Andi. Klo kamu ngedate aku sendirian di kostan Cuma bisa main liat-liatan ama Mbok Ijah..!” Tata mulai ngomel gak karuan. Sedangkan Vivin masih saja di dalam entah sedang menyiapkan apa, mungkin senjata lengkap untuk berjaga-jaga, takut kalau nanti dugaanya benar.


***********


Wah.. tamannya bagus ya Ta..! lampunya juga, keren abis. Eh .. ini kita bawa yuk, buat oleh-oleh nanti kita taruh di teras depan kostan kita Ta, pasti makin keren” Vivin yang takjub melihat lampu taman, amat sangat tertarik dengan bentuknya yang bulat penuh, dan warnaya yang kuning remang-remang.


Vivin memang suka tertarik dengan pernak pernik dan barang-barang yang cantik. Pernah suatu kali ia membawa entah apa namanya, bentuknya seperti besi gulungan entah dari mana dia dapat. Tapi memang Tata juga mengakui kalau Vivin punya mata seni yang jeli, meski tak jarang Tata menyebut Vivin adalah pemulung jeli.



Sejak tadi Tata hanya celingukan tidak peduli pada ucapan-ucapan Vivin. Ia melongok berkali-kali pada jam yang terpampang di layar ponselnya. Jam masih menunjukkan pukul 18.00 Sedangkan ia membuat janji pukul 19.30. Tata sudah tidak sabar, Ia mulai ngoceh gak jelas. Semua orang yang lewat di komentarin


Eh .. tukang siomay.. jualannya jangan disitu dong..! merusak pemandangan tau !” oceh Tata. Sementara si tukang siomay hanya mencibir melihat Tata yang mengoceh dan berlaga sudah seperti si pemilik taman.


Pisang goreng... tahu isi… lumpia-lumpia..” seorang Ibu-ibu seumuran Mbok Ijah menjajakan daganganya.


Ada lumpia isi pisang sama tahu gak Bu?!” tanya Tata asal. Si pedagang senyum-senyum mendengar perkataan Tata. Lalu dengan segera ia menghampiri Tata.


Mo beli neng ??” tanya si pedagang itu. Tapi Tata malah pura-pura tidak mendengar.


Huh … dasar anak jaman sekarang gak ada sopan santunya sama sekali, ditanya kok malah pura-pura bolot. Ora ono pikirane. babarblas !” gerutu Ibu pedagang setengah baya tadi.


Gila lu Ta kasian tuh si Ibu ! dah pasang tampang kaya bayi kucing yang minta netek lho dia. Kualat baru tau rasa !.. orang tua tuh !” Vivin memperingatkan Tata.


Huwahahaha …. salah sendiri kan aku cuman iseng ! Habisnya capek aku nunggu gini.” tawa Tata meledak dan menggemparkan taman kota, nampaknya Tata sudah mulai jenuh.


Yee .. salah sendiri kan tadi dah gue bilang ngapain berangkat jam lima sore. Nih taman juga masih sepi. Untung aja kita gak dikira gembel. Lagian kenapa sih janjiannya di taman bukannya di mall?” Vivin juga sudah mulai gerah, maklum saja Vivin gak terbiasa mejeng di taman kota.


********


Tak jauh dari tempat mereka nongkrong mereka melihat sesosok pria bertubuh kekar, tatto bergambar ular naga di lengannya membuatnya tampak semakin garang. Sepertinya pria itu hendak menuju ke tempat mereka. Tata dan vivin maen sikut, lalu Tata berbisik “Tanpa penghormatan umum balik kanan bubar … lariiiiiiiii … !!!” Maka Tata dan Vivin pun lari tunggang langgang seperti anjing yang di kejar-kejar kucing. Heh? gak kebalik tuh??


Hos.. hos.. hos.. busyet dah! Ta, itu ya orangnya? Gila lu.. gak liat-liat dulu preman gitu lo embat juga !” Vivin berkomentar tentang laki-laki yang diliatnya barusan. Ia hampir saja kencing dicelana. Tangannya sudah siap di dalam tas untuk mengambil senjata yang memang dia bawa dari rumah.


Meneketehe Vin.. di foto gak gitu kok..! kayaknya sih bukan dia. Gila.. aku juga keder Vin klo bener itu orangnya. Ntar aku intip dulu!” Tata langsung melakukan pengintaian kepada laki-laki itu.


Eh Vin.. buruan kesini..! Tata berbisik memanggil Vivin yang sudah jatuh terkapar di rumput taman kota


Da apa Ta.. Lu ngeliat apaan? beneran ya?” tanya Vivin kepada Tata yang masih asyik mengamati.


Tuh liat aja sendiri... bukankan..!” Tata bersorak girang. Lalu tanpa sadar Tata berlarian di taman sambil menari-nari dan Vivin ikut juga. Seperti ini lah kelakuan Duet imoet, bila salah satu di antara mereka senang, maka yang lainyapun ikut senang.


Huwahaha.. rupanya dia pembadut.. liat dia berganti kostum di belakang pohon! Kita intip yuk...!“ ajak Tata tanpa malu-malu. Maklum Tata memeliki rasa ingin tau yang cukup tinggi.


Dasar sableng.. iseng sih iseng tapi ngapain juga ngintipin orang kayak gitu ! Paling juga barangnya gak sebanding ama badannya, hehehehe...” Vivin menolak ajakan Tata. Menurutnya tak ada pentingnya ngintip, apalagi yang diintip laki-laki kekar, gak keren pula. Mending ngintipin Mas Andi, bisa buat dijadiin bekal mimpi.


Yee... Makin hari otakmu tambah ngeres aja Vin..! kebanyakan diapain si ama si Andi!. Aku tuh cuman mo liat dia beneran badut ato cuman kedok doang!” Tata menjelaskan dengan sok diplomatisnya, sok tau, song ngerti, sok paham, sok segala-galanya lah.


Akhirnya Vivin dan Tata sepakat untuk mengintai tingkah laku badut kekar itu. Mereka bertingkah seperti detektif saja. Menguntit kemanapun orang yang mereka curigai. Si badutpun tak kalah bego’nya ia sepertinya tahu kalau sedang diikuti tapi ia tidak sadar karna yang ada dipikirannya ada dua cewek imut mengikutinya. Sejauh ini tingkahnya masih biasa-biasa saja, membadut dimanapun ia suka. Dan belum ada keributan apapun. Semua aman terkendali, hansip pun masih tetap bertengger di pos penjagaanya.


*******


Jam sudah menunjukkan hampir pukul 20.00, Tata dan Vivin masih asyik mengamati badut itu. Yang menurut mereka memang lucu dan kocak. Duet imoet kegirangan tertawa tawa sepanjang perjalanan dan sepertinya mereka mulai lupa tujuan awal mereka datang ke taman kota itu.


Ya … jogetnya selesai tu badut” protes Vivin yang sudah mulai menikmati setiap gerakan si badut.


Eh … Vin, kayaknya tu badut mo beranjak ke tengah-tengah taman kota, kita ikutin yuk” ajak Tata pada Vivin. Akhirnya mereka mulai asik dengan sang badut.


Sang badut mulai menarik perhatian anak-anak kecil yang sedang asik bermain di taman kota, dan ternyata bukan hanya anak-anak yang tersihir oleh pesona sang badut. Dari kejauhan tampak pula orang dewasa yang ikut menikmati liukan tubuh sang badut. Termasuk di antaranya Tata dan Vivin.


Ta .. Ta … lo liat deh tu badut, coba lo perhatiin tanganya saat dia mintain uang kepenonton!” Bisik Vivin pada Tata. Matanya yang kecil menyipit sambil menunjukkan ada yang aneh sedang terjadi.


Mana ..mana … ?!” Tata membulatkan matanya, mencoba untuk lebih memperhatikan tangan si badut.


Tata dan Vivin mulai sibuk dengan pandanganya masing-masing. Vivin memicingkan matanya yang mulai agak rabun, sementara Tata makin membesarkan bola matanya hingga nyaris lompat keluar.


Wah .. gak beres nih si badut” Tata yang mempunyai jiwa petaruh merasa tertantang dengan kejahilan tangan si badut.


Tahan emosi Ta, jangan gegabah” Vivin sok menengkan Tata yang mulai kalap. Tata memang paling tidak suka sama yang namanya tindakan kejahatan. Terbukti saat kebaya Mbok Ijah hilang, Tata sudah mau main usut aja ke RT, padahal ternyata kain kebaya Mbok Ijah ada di bawah jok motornya Vivin. Kecuali perkara Mbok Ijah yang doyan nyirih pake ganja, Tata memberi toleransi.


Tata dan Vivin keluar dari gerombolan orang-orang yang sedang menikmati badut, mereka berdua sudah memprediksikan kalau sebentar lagi bakal ada keributan yang berasal dari salah satu penonton badut, maklum saja Duet Imoet punya daya perkiraan yang lumayan jitu.


Lima menit berselang, badut itu mulai mengakhiri pesta kecilnya, dengan santai Sang badut berjalan mencari keramaian di tempat lain.


Copet ….. Copeett .. toloong !! berlian imitasi saya ilang…!copet... copett .. tolooong !!” tiba-tiba terdengar seorang ibu-ibu berteriak ia menggenggam dadanya yang masih dihinggapi rasa kaget. Tangisnya meledak dikerumunan taman kota.


Vivin segera menghampiri sang ibu yang tadi berteriak. Sementara Tata mengalihkan pandanganya ke semua arah taman kota, dan dia melihat sosok sang badut celingak-celinguk dan berlari cepat, tanpa pikir panjang Tata segera berlari mengejar sang badut, dan Vivin pun dengan gesit mengambil langkah seratus ribu untuk ikutan Tata mengejar sang badut.


Cuit… cuit…” suara centil itu membuat Vivin mencari sumber suara.


Ditengah keadaan genting begini, masih saja ada yang menggoda cewek. Bukanya bantuin dasar.. cowok macam apa tuh!” umpat vivin dalam hati. Lalu ia kembali membantu Tata mencari Badut pencopet itu.


Tapi bisikan itu terus saja terdengar dan ternyata bunyi itu berasal dari tas kecil milik Tata. Ponsel Tata berbunyi, namun Tata tak menyadarinya karena dia sibuk mengejar sang badut yang ia curigai sebagai pencopet. “Cuit … cuitt .. cuiit..” ponsel Tata bunyi untuk kesekian kalinya.


Brisik amat sih.. sapa sih nih yang goda goda! diem napa” Tata mulai ngomel gak karuan mendengar suara ponselnya sendiri, ia terus saja berlari mengejar si Badut..


*********


Jarak antara Tata dan badut hampir dekat, dengan gesit Tata mampu mengikuti tiap gerakan sang badut, saat sang badut melompati taman kota, maka dengan mudah Tata pun bisa melompatinya, sementara Vivin sesekali sibuk bereceloteh karena kecapean dan tak mampu mengikuti tiap gerakan Tata. Saat melompati pagar taman kota kaos Vivin sempat tersangkut dan sobek kecil di bagian bawahnya.


Ciaaatt...! hayo mo kemana.... woii muka bopeng..! kembaliin tuh perhiasaannya kalo enggak aku santet nih..! teriak Tata.


Mulut Tata komat kamit seperti membaca mantra, matanya yang besar terbuka semakin lebar. Tata seperti orang kerasukan. Badut copet itu ketakutan lalu mencoba berlari, tapi sia sia ia tak mampu lagi berlari. Mungkin terkena pengaruh santet.


Ampun mbak... iya mbak.. tolong lepasin santetnya!” badut itu mengiba, make up tebalnya luntur basah oleh tangisnya yang deras. Dan celana warna warninya sobek entah karena apa.


Vivin takjub melihat kesaktian Tata di tepi arena pertarungan mereka.. Dan Tata semakin menjadi mengerjai si Badut. Tata menyuruh Badut mengembalikan berlian imitasi lalu jalan jongkok dan skot jump 100 kali, baru Vivin melepaskan mantranya. Dan si Badut bego nurut aja skot jump. Sambil menghitungsendiri sampai 100. Tata hanya tersenyum kecil dalam hati ia tertawa keras.


Hebat banget lu Ta.. baru tau gw klo lu punya kesaktian. Kapan kapan ajarin gw dong.. ! Biar klo mas Andi macem macem tinggal komat kamit aja” Vivin menepuk punggung sahabatnya itu.


"Akh.... biasa aja! ini tadi kan cuman akting jadi dukun. Dia gak bisa lari soalnya ganjel pantatnya kecantol ama tuh.. patahan patung taman. Hahahaha.. salah sendiri jadi copet kok bodo...!” tawa Tata meledak mengingat kejadian barusan. Ia tak menyangka bakal menjatuhkan badut yang bertubuh kekar dan gempal itu. Selesailah tugas Duet Imoet memerangi kejahatan.


Vivin.........!!!!! jam berapa sekarang janjianku gimana??” tiba tiba Tata berteriak kesetanan.


Jam setengah sembilan lebih Ta.. kenapa lu, kesurupan taman kota ya!” Vivin terhenyak kaget mendengar teriakan Tata yang super nyaring itu. Semua orang yang ada di sekeliling langsung menatap kami berdua dengan heran.


Gagal lagi deh...! janjianku.. kan setengah delapan. Akh badut sialan...!!!” Tata jejingkrakan mengacak ngacak rambutnya sendiri dan menendang batu batu yang berada didepannya.


Diperiksanya ponsel yang sejak tadi berbunyi. Rupanya 10 misscal dan 4 sms. Sms terakhir bunyinya “Maaf.. karna saya terlalu lama menunggu, n gak dpt menghubungi hpmu, saya pulang saja. Terima kasih sudah membuat janji dengan saya. Semoga masih bisa bertemu suatu saat. Salam kenal, Tris!” tangis Tata hampir meledak ia memeluk patung di depannya.


Vivin hanya terkekeh melihat tingkah sahabatnya, kali ini gara gara Badut sialan itu Tata gagal ngedate. Kasihan juga dilihatnya, tapi mau bagaimana lagi? keadaan kacau gara gara Tata ingin membela kebenaran dan itu tidak salah. Lalu Vivin menggiring Tata pulang dengan iming iming mentraktirnya bakso malam ini. Entah hari ini kejadian mengenaskan, atau membanggakan bagi Duet Imoet terlebih bagi Tata.


Label:

 
posted by Duet Imoet at 02.48 | Permalink | 0 comments
Jumat, 27 Juli 2007
Mas Bayu Guru Ngaji

Siang ini udara sangat panas sekali, kebetulan penghuni kostan milik Pak Totok sedang berada di rumah. Tata dan Vivin sedang asik duduk di teras depan menikmati panas dengan bergaya sok berjemur di pinggir pantai, lengkap dengan kacamata hitam dan kain bali. Bedanya mereka berdua gak pakai bikini.


“Neng Tata, Neng Vivin ... Si Mbok bikin rujak nih, kita ngerujak sama-sama yuk” Mbok Ijah muncul dari dalam rumah sambil mambawa baskom kecil serta cobek yang berisi sambal rujak.


“Mbok Ijah tau aja yang kita mau..! ya gak Vin” Tata melirik Vivin seraya mengerlingkan matanya yang bulat dan indah.


“Ho oh,” jawab Vivin singkat. Vivin mulai asik dengan rujak buah dan sambal rujakan hasil olahan tangan keriput Mbok Ijah


“Tin ... tin...” terdengar suara klakson vespa milik Mas Bayu yang tak lain adalah anaknya Pak RT yang tinggal tak jauh dari kostan yang di huni Tata dan Vivin.


“Mas Bayu... woi...!” suara teriakan Tata menghentikan langkah Mas Bayu yang hendak membuka pintu pagarnya. Lalu dengan sigap Mas Bayu menghampiri dua perempuan imut dan satu perempuan mantan imut.


“Wah lagi pesta ya? Seru amat? Berdua aja neh!” Tanyanya sambil tangannya bergerilya mengambil irisan mangga muda.


“Enggak mas... berame rame..! dah tau ada Mbok Ijah, dia kok ndak diitung?” Tata yang sedang kepedasan menjadi sewot melihat tingkah Mas Bayu yang asal comot.


“Lagi pada ngapain neh, tumben pada ngumpul di teras” Mas Bayu mencoba berbasa-basi, tapi sayang basa-basinya lagu lama, dah tau ketiga cewek penghuni rumah Pak Totok sedang asik rujakan, pake pura-pura tanya segala.


“Mas.. klo nyoba'in rujaknya Mbok Ijah baca Bismillah dulu. Jangan asal comot gitu. Ntar kena pelet baru rasa lu..!” Vivin mulai Jail. Sementara Mbok Ijah hanya cengar-cengir seraya memamerkan giginya yang putih bersih, rapih dan belum ada satupun yang tanggal.


“Iya .. Vin makasih dah diingetin. Bismillahhirohmannirohim” Mas Bayu pun mencoba menyicipi rujak buah buatan Mbok Ijah. Vivin, Tata dan Mbok Ijah cekikikan melihat wajah Mas Bayu yang sok serius itu.


“Be te we (BrEkele TEmennye WEwe) ... Mbok Ijah giginya bagus banget. Masih lengkap aja, padahal si Mbok dah tua, pasti perawatanya ok punya tuh, nyirih terus ye Mbok ?” Mas Bayu berkomentar dan tertawa kecil sambil menutupi mulutnya dengan sapu tangan yang ia pegang.


Rupanya Mas Bayu merasa minder dengan keadaanya, bila di bandingkan dengan Mbok Ijah Mas bayu jauh lebih muda dari Mbok Ijah, namun siapa sangka ternyata di balik tampang Mas Bayu yang jauh dari tampan dan hampir dekat dengan manis, dia memiliki kekurangan yang sangat mencolok, yaitu bagian depan gigi Mas Bayu ada yang sudah tanggal.


“Ya iyalah Mas Bay, nyirihnya pake daun ganja pula” dengan seketika Tata menutup mulutnya sendiri, ia baru sadar kalau ia baru saja membocorkan rahasia besar Mbok Ijah. Mbok Ijah hanya terdiam pura-pura cuek, sementara Vivin menyikut lengan Tata.


Spontan saja Mas Bayu tersentak kaget, mangga muda yang masuk ke mulutnya hampir tesembur keluar, kalau saja tanganya tidak berjaga di depan mulut gawang.


“Hah?? apaaaaaaa Nyirih pake daun ganja ?” Mas bayu mengulang ucapan Tata. Dan ketiga wanita penghuni rumah Pak Totok menganggukan kepala mereka secara serentak.


“Ini namanya melanggar hukum, itu bukan nyirih tapi ngganja !. Kalian paham?!” kini gaya Mas Bayu sudah seperti Polisi yang sedang mengintrogasi.


Tanpa sadar Mas bayu lupa menutupi mulutnya, maka spontan saja ketiga wanita yang berada di hadapanya tak kuasa menahan tawa lantaran melihat gigi Mas Bayu yang berjendela. Menurut cerita sih, Mas Bayu kehilangan giginya karna pernah nyungsep* ke selokan gara gara vespanya disrondol* nenek-nenek.


“Huwakakaka.. jendelanya Mas.. kliatan!” Suara Tata spontan saja terlepas. Serta merta Mas Bayu sadar lalu ia menutupi mulut dengan sapu tangannya dan kembali berceramah.


“Yee.. bukannya Ganja sudah di legalakan Mas ? gakpapa kan kalau tujuannya buat penyedap sayuran atau obat? Lagian ya Mas, Mbok Ijah ini kalau nyirih memang selalu pakai daun ganja, dia gak suka kalau nyirih pake daun sirih. Dan satu hal yang kudu wajib mesti Mas Bayu ketahui, Mbok Ijah itu kalau sehari saja tidak nyirih pake daun ganja dia bisa klosotan di dapur dah kayak kucing keracunan!” Vivin menjelaskan perkara kelakuan Mbok Ijah dengan seksama pada Mas Bayu.


“Oooo … gitu ya ?, aneh sekali” Mas Bayu tampak bingung, dan kebingunganya tampak jelas karena jidat pria dengan kacamata setebal pantat botol kecap, berkerut-kerut seperti pantat ayam mau bertelur.


“Mas … Mas Bayu bisa Bantu Mbok Ijah belajar ngaji gak ?” Vivin mencoba mengalihkan pembicaraan, ia tak mau kalau Mas Bayu terlalu banyak tanya dari mana Mbok Ijah bisa mendapatkan daun-daun ganja itu.


“Ngaji? saya ngajar Mbok Ijah ngaji ?” Mas Bayu tampak ragu.


“Iya ..Mas Bayu” Tata mencoba meyakinkan Mas bayu.


“Enggak ah, saya takut, abis Mbok Ijah mainannya ganja kayak preman aja! Ngomong-ngomong
Mbok Ijah dulunya preman ya ?” Tanya Mas Bayu sambil mencoel mangga muda yang di pegangnya ke sambel rujak buatan Mbok Ijah.


“Ya … engga toh Mas, si Mbok nih mantan sinden beken, biar gini-gini si Mbok juga mantan pacarnya pejuang Indonesia, dan yang harus Mas Bayu catet biar si Mbok suka nyirih pake daun ganja, tapi saya baik hati, dan lemah lembut” Mbok Ijah mulai angkat bicara, sejak Tata keceplosan soal kebiasaannya. Mbok Ijah jadi takut, kalau-kalau Mas Bayu akan menyeretnya ke kantor polisi.


“Ooohh … gitu ya, terus kenapa Mbok Ijah lebih suka nyirih pake daun ganja ketimbang daun sirih” Tanya Mas Bayu penasaran.


“Ya suka aja, rasanya lebih nampol dan bisa bikin fly” jawab Mbok Ijah dengan tenang sambil memperagakan gaya burung terbang.


“Wkakakkakakaka …. “ Tata, Vivin dan Mas Bayu tertawa serempak.


“Ok .. saya mau-mau saja mengajarkan Mbok Ijah ngaji tapi dengan syarat Mbok Ijah gak boleh nyirih pake daun ganja lagi” Mas Bayu mencoba mengajukan syarat yang harus di penuhi oleh Mbok Ijah.


Tata dan Vivin saling adu pandang, lalu menatap wajah Mbok Ijah yang tampak kaget karena persyaratan yang di ajukan cukup berat baginya.


“Gini nih Mas.. dulu tuh pernah ya Mas, Mbok Ijah kehabisan ganja, terus dia coba nyirih pake daun sirih. Mas bayu tau gak apa yang terjadi sama Mbok Ijah?” Tata menghentikan pembicaraanya, ia menenggak air minum karena kepedasan.


“Apa … apa yang terjadi?” Mas Bayu makin penasaran.


“Si Mbok langsung mabok, muntah-muntah, buang-buang air pokoknya gak karuan deh!jalan aja dari lorong dapur sampe ke kamarnya waduh... dia gak sanggup, Mbok Ijah cuman mampu ngesot” Tata menceritakan kejadian beberapa bulan yang lalu.


“Iya .. bener” Mbok Ijah mengamini omongan Tata


“Nah .. kalau sudah begitu Mas gue sama Tata deh yang kebingungan” Vivin ikutan mengenang kejadian itu.


“Oooo gitu ya ?, emang kalau daun ganjanya di ganti pake daun singkong gak bisa ? Kan sama tuh bentuknya” Mas Bayu garuk-garuk kepala


“Bentuk hampir sama tapikan beda rasa dan khasiatnya Mas Bayu!” Mbok Ijah nyengir kuda.


“Iya betul Mas, bentuk sama beda rasa. Dulu juga Tata pernah usul gitu, tapi setelah di coba si Mbok malah sakau” Vivin kembali menjelaskan pada Mas Bayu, tampaknya pria ini agak lemot pemikiranya dari tadi gak paham-paham sama kebiasaanya Mbok Ijah.


“Bisa gak Mas ?” Mbok Ijah harap-harap cemas, sudah lama sekali dia ingin belajar mengaji.


“Duh dilema nih” jawab Mas Bayu lirih


“Akh.. kelamaan nih..! iya aja deh Mas.. mang klo ngeganja gak boleh belajar ngaji? Lagian klo Mbok Ijah tetep nyirih pake ganja itu membantu ingatan-ingatan tentang pelajaran yang Mas Bayu kasih!” Tata memindah posisi dan pindah disebelah Mas Bayu.


Tata mendengar rumor, Mas Bayu tipe cowok yang mudah luluh bila di dekati seorang wanita, baik itu wanita yang masih balita, anak-anak, remaja, dewasa bahkan nenek sekalipun, pokoknya wanitalah yang mampu membuat sosok seorang Mas Bayu klepek-klepek seperti ikan kekurangan air.


“Duh ... makin dilema saya. Emang kalian gak bisa ngajarin Mbok Ijah ngaji ?” Mas Bayu menatap Tata dan Vivin, sepertinya Mas Bayu curiga jangan-jangan Tata dan Vivin juga gak bisa ngaji.


“Nah .. itu dia Mas, Mbok Ijah gak mau kalau ngajinya di ajarin sama cewek, sebenarnya gue ma Tata mah bisa-bisa aja kalau cuma sekedar ngajar Iqro” Vivin menuangkan air ke dalam gelas Mas Bayu.


“Makasih Vin” Mas Bayu menenggak minumnya sampai habis, sepertinya dia kepedesan karena sambel rujak yang Mbok Ijah buat pake cabe rawit merah semua.


“Tapi kenapa kalian pilih saya” Mas Bayu tampak ke GRan


“Tadinya saya dah nawarin ke Mbok Ijah supaya dia belajar ngaji sama Ustad Dedi, tapi Mbok Ijah gak mau, dia bilang Ustad Dedi terlalu tampan dan mempesona, nanti si Mbok malah gak konsen belajarnya. Makanya gue dan Tata memutuskan untuk memilih Mas Bayu, karena Mas Bayu bukan seleranya Mbok Ijah.


Mbok Ijah hanya tersipu malu, sementara Tata cekikikan karena melihat tampang Mas bayu yang manyun karena ia merasa sudah di lecehkan oleh seorang Mbok Ijah


“Maaf Mas, saya gak ada maksud menghina, tapi memang seperti itu selera saya” Mbok Ijah merasa tak enak hati pada Mas Bayu.


“Gimana minat gak? bayarannya lumayan loh, Mas Bayu juga bisa tidur sama kita-kita” Tata mulai menggoda Mas Bayu.


“Nah lho Ta.. lu ngajak tidur bareng kasur lu aja kecil? Mana Muat jeng..! Huwahahahaha..” Vivin mengingatkan Tata yang sudah kelewatan menggoda Mas Bayu.


“Becanda mas.. wah jangan diseriusin.. tapi diiyain juga gpp.” kali ini Tata mulai mengedipkan mata sebelah ke pada Mas Bayu.


“Mas ngajar ngaji, ibadah juga kan” Vivin ikutan menghasut


“Mau belajar Iqro ? mau seminggu berapa kali ?” Mas Bayu tampak mulai setuju


“Iya Mas” jawab Mbok Ijah dengan senyum yang merekah


“Mau tiap hari apa ngajinya? Setiap malam jumat aja ya?!” Mas Bayu mencoba memberi masukan


“Jangan …! jangan malam Jumat. Malam Jumat itu jadwalnya Mas Andi ngapelin gue. Ngajinya tiap malam minggu aja” Jawab Vivin menolak usulan Mas Bayu.


“Aneh ,… ngapel kok malam Jumat, masa kamu pacarannya malam Jumat sih Vin ?” Mas Bayu kembali bingung dengan kebiasaan-kebiasaan penghuni kostan pak Totok


“Iya .. Mas Bay .. soalnya kalau malam Jumat gak banyak setan, orang-orang banyak yang Yasinan, jadi dengan gitu Neng Vivin dan Mas Andi pacaranya aman” Jawab Mbok Ijah yang sudah hapal betul dengan jadwal kencan Vivin.


“Ok deh kalau, seminggu sekali tiap malam minggu ya?” Mas Bayu mencoba memastikan kembali.


“Ok !” jawab Mbok Ijah gmbira.


“Seep !!” jawab Vivin sambil mengajungkan ibu jarinya


“Yup !!!” Jawab Tata seraya mengerlingkan matanya sekali lagi kearah Mas bayu.


“Ok .. sep .. yup .. Deal !! tapi satu syarat yang mesti kalian penuhi, dan ini gak bisa bilang tidak, kalian harus memenuhi pernyaratan yang satu ini” Mas Bayu bicara dengan serius.


“Persyaratan apa ?!” jawab Vivin, Tata dan Mbok Ijah serempak.


“Begini, saya minta sebelum saya mulai mengajar, tolong putarkan lagunya joe satriani yang judulnya flying in the blue dream. Bisa kan ?” Mas Bayu cengar-cengir memamerkan giginya yang ompong satu.


“Gila lo Mas, gue kira lu cuma doyan nasyid, eh ternyata mainan lu metal juga” Vivin yang selama ini menyangka Mas Bayu adalah seorang pria yang cupu, dan kini spontan saja Vivin langsung terheran-heran.


“Ok Mas .. tenang aja nanti semuanya kita siapin, soal lagu metal itu, biar nanti aku pinjamin sama temanku di kampus” Tata menyanggupi persyaratan yang di ajukan Mas Bayu


Sore ini suasana teras rumah kost milik Pak Totok lebih ceria, karena ketiga wanita penghuninya sedang asik berbincang dengan pria yang orang tuanya cukup disegani di komplek ini. Dan Mbok Ijah pun tampak sumringah karena Mas Bayu bersedia mengajarinya mengaji. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya antara Mbok Ijah, Mas Bayu Tata dan Vivin setelah ini.

Label: ,

 
posted by Duet Imoet at 04.02 | Permalink | 0 comments